Potret anak Bangsa yang menjadi korban dari kejamnya sebuah kehidupan di Ibu Kota, miris melihat banyaknya anak kecil yang harus berkeliaran dijalan dari pagi hingga malam hanya untuk mencari belas kasihan dari warga sekitar. Hampir 2 tahun yang lalu saya berkesempatan membuat Skripsi yang bertemakan kehidupan anak jalanan dengan judul "Studi Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak Jalanan", banyak yang bertanya kenapa saya mengambil tema anak jalanan sebagai objek penelitian, bukan..bukan karena merasa anak jalanan lebih mudah diteliti melainkan sedari dulu saya selalu menangis jika melihat sosok lugu mereka harus terkontaminasi dengan lingkungan.

Anak Jalanan atau yang biasa disingkat menjadi Anjal memang kerap ditemukan diberbagai sudut kota di Indonesia terutama di jakarta, potret suram yang terus menerus timbul tanpa ada hentinya ini sudah berlangsung sangat lama, dan yang lebih mengejutkan lagi hampir di setiap tahun jumlah anak yang harus turun kejalanan demi mencari nafkah semakin bertambah. Satu pertanyaan yang menggelitik pikiran saya setiap melihat anak-anak itu bermain dipinggir jalan "Apa yang sedang dilakukan PEMERINTAH saat ini?" tidakka para pemerintah mencari solusi pasti bagaimana cara mereka mensejahterakan masyarakat miskin diluaran sana.


Jakarta yang merupakan Ibu Kota dari Indonesia si Kota yang tidak pernah tidur, si Kota Metropolitan yang serba menjajikan, tapi apa yang mereka dapat? tidak sepeserpun uang yang mereka dapat dari Negara, justru dengan cara meminta belas kasihan dari beberapa masyarakat lainnya lah mereka mendapatkan sepeser demi sepeser setiap harinya. Tidakkah kita berpikir bagaimana dengan hak mereka sebagai seorang anak? bagaimana dengan pendidikan mereka? bagaimana dengan kesejahteraan mereka kelak?.

Indonesia merupakan Negara Hukum, haruskah image itu tetap berlaku untuk Negara kita saat ini? saya rasa tidak, bahkan Pancasila yang menjadi pedoman kita sehari-hari sudah mulai pudar dimakan waktu, miris..ya sangat miris, mungkin kalian pernah mendengar Indonesia memiliki UUD 45 dan didalamnya terdapat banyak Undang Undang mengenai anak yang salah satunya berbunyi.

"Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminatif (UUD 45 Pasal 28B ayat 2)"

Koreksi saya jika saya salah, berbicara tentang kesejahteraan anak, hukum, dan sosial memang tidak akan pernah ada habisnya karena semua memiliki korelasi yang kuat satu dengan yang lainnya, mata rantai yang tidak akan pernah terputus walau dimakan usia. Percaya atau tidak sudah bertahun-tahun lamanya fenomena anak jalanan tidak pernah dapat diatasi oleh pemerintah, pemberantasan kemiskinan tidak pernah ada hasilnya hingga detik ini, janji-janji para petinggi Negara atau Calon petinggi Negara terus bergulir setiap waktunya "Pilih saya menjadi Wakil kalian, karena saya berjanji akan men sejahterakan Masyarakat miskin di Indonesia" itulah bunyi janji atau wacana dari mereka sejak dulu.
Siapa yang harus disalahkan? saya rasa jika sedari awal Pemerintah mampu menekan angka kelahiran atau menekan angka Urbanisasi atau setidaknya Pemerintah bertindak lebih awal, mungkin fenomena anak jalanan tidak akan terus meningkat pesat setiap tahunnya. Anak-anak jalanan berhak mengecam ilmu pendidikan di Sekolah sesuai dengan kodratnya, mereka berhak merasakan indahnya menjadi seorang anak ketika memiliki kesempatan belajar serta bermain bersama teman sebaya mereka di lingkungan pendidikan, bahkan anak-anak berhak mendapat perlindungan dari Orang tua, Pemerintah serta warga sekitar. 

Namun tidak pada kenyataannya anak-anak kerap menjadi korban dari kejamnya hidup di Ibu Kota, Tahukah kalian bahwa banyak sekali anak-anak dibawah umur 10 tahun harus merasakan sakitnya dibuang orang tua? malunya menjadi korban kekerasan seksual? pedihnya menjadi korban kekerasan fisik dari orang yang lebih dewasa? mungkin banyak dari kita yang berpikir "Mereka sudah ada yang mengurus, kan ada Pemerintah" itu BOHONG..banyak dari mereka tidak pernah tersentuh oleh uluran tangan Pemerintah, bukan maksud saya memojokkan Pemerintahan kita tapi saya hanya ingin membantu Pemerintah untuk membuka mata mereka dan menegur mereka "Hey..berhentilah bermain dengan nikmatnya Surga Dunia yang dimulai dengan Uang, kedudukan, derajat, atau Status. Coba lihat disekeliling kita betapa banyak anak-anak jalanan yang membutuhkan pertolongan kita sebagai orang yang lebih mampu, penuhi janji kalian selagi kampanye dulu. Ayo sejahterakan mereka, sejahterakan kehidupan masyarakat yang masih hidup dengan segala kekurangan"


Dengan maksud yang baik saya sebagai "MANUSIA" yang masih memiliki hati nurani berharap..siapapun yang menbaca tulisan ini mau berlomba-lomba membantu mereka para anak jalanan atau warga kurang mampu lainnya dengan niat baik kita untuk mengulurkan segala bantuan sesuai dengan yang mereka butuhkan, kalau bukan kita yang memulai lalu siapa lagi?.
Reactions: